KAU SOLAH-OLAH MASIH HIDUP

Setela kepergianmu untuk selamanya pada pada hari sabtu sore sekitar jam 17:00 tanggal 25 bulan Januari 2020 M. saya sangat sadar bahwa tidak ada manusia yang sudah meninggal kembali lagi hidup ke dunia, kecuali ada beberapa kasus yang terjadi hidup lagi setelah dikubur beberapa hari tapi itu kasusnya memang belum meninggal dunia, dan kasus ini sangat langkah tapi ada yang demikian adanya dari cerita ke cerita. Saya sadar bahwa dalam alquran dijelaskan setiap yang bernyawa pasti mengalami yang namanya kematian, dari ayat ini saya sangat ikhlas ketika engkau meninggal kami anakmu. Setiap saat saya merasakan kehadiranmu disisiku. Namun hal itu sekali lagi saya sadar bahwa engkau tidak mungkin hidup kembali.

            Detik-detik terakhir kepergianmu selalu terbayang dalam diriku pada saat itu tanggal 1-1-2020 dipagi hari yang cerah kita jalan-jalan di persawahan yang padinya hampir panen kita berdua singgah memetik Lombok yang merah di pematang sawah pada saat itu engkau mengatakan kepadaku: wahai anakku ajalku sudah tiba tidak lama lagi, saya kaget sambil bercandah dan menjawab kata tersebut dengan ungkapan: belum aji kita masih muda belum saatnya ajalta tiba, lalu engkau katakana lagi wahai anakku saya tidak main-main dengan kata-kataku. Saya tiba-tiba serius dan mengatakan tongekki aji? Iyye anakku nasaba engkani pajemppuku(karena penjemputku suda ada). Kata-kata itu seolah-olah engkau berbincang langsung dengan malaikat pencabut nyawa. Kemudian engkau bertanya kepadaku wahai anakku jadi apa yang mesti saya persiapkan, dengan spontang saya menjawab wahai ajiku perbaiki kalimat sahadat dan dia bertanya lagi apa lagi anakku saya menjawab dengan serius itu saja Ajiku degaga laleng lain sangadinna lalenna puang alla taala (tidak ada jalan lain kecuali jalan yang telah digariskan oleh Allah swt.)

Selang beberapa hari kemudian ketika  saya mau mengadakan syukuran atas lahirnya anak yang ke 3 kami. Anak saya lahir tanngal 12 Januari dan rencana aqiqah pada hari yang ke 14 setelah kelahirannya. Ternyata pada tanggal 25 januari engkau meninggalkan kami untuk selamanya. Saya tidak menyangka panggilanmu begitu mendadak niat hati pada saat itu menjemputmu untuk menyaksikan aqiqah cucumu tapi ternyata setelah samapi dirumah engkau mendapatkan panggilan yang sugguh tak terduga dari pencipta alam semesta. Sampai saat ini saya selalu merasa engkau ada bersamaku dengan selalu memberiku peringatan atupun sapaan yang hangat seperti biasanya. Dengan ungkapan yang selalu berulang-ulang dan tidak berbeda kalimatnya, nak jaga telingaku, enggeranggi mubokorie (jaga telinga saya, ingat yang dibelakang) kata-kata ini bukan saja setiap hari saya dengarkan dari bibirmu namun setiap saat kata itu terngian-ngiang ditelingaku. Terusterang saja kata-kata ini yang membuatku sulit untuk bergerak bahkan beraktifitas dengan maknanya yang begitu mendalam.

            Menjaga telinga dalam artian memperdengarkan sesuatu yang positif, ingat yang dibelakang artinya pahami siapa keluargamu siapa pendahulumu jangan membuat mereka kecewa dengan segala tingkah lakumu. Perestasi yang gemilang harus menjadi incaranmu. Dengan petuah tersebut Alhamdulillah berhasil meraih gelar tertinggi dalam dunia akademik yaitu doktor dibidang tafsir. Puji dan syukur selalu saya lantungkan setiap hari dalam bibirku karena saya meyakini tidak sembarangan orang meraih gelar tertinggi ini apalagi dibindang tafsir.

            Lagi-lagi engkau selalu hadir dalam alam bawa sadarku yang seola-olah dalam dunia nyata. Bagiku itu suatu yang membuatku terispirasi dalam menjalangkan kegiatan. Dalam nafasku setiap saat terukir selalu petuahmu yang setiap saat kau sampaikan terdengar ditelingaku. Pada awalnya saya tidak mengerti dengan kata-kata itu, ternyata kata-kata itu penuh dengan makna yang sangat mendalam dalam kehidupanku. Petua itu semacam rumus yang harus saya aplikasikan dalam setiap tingkahku. Terkadang saya menangis dan terkadang tertawa ketika mengingat kata-katamu.  

 

Komentar