Membaca Sesuatu yang Tersembunyi

Dalam membahasakan suatu subjek yang dianggap penting, setiap orang mempunyai pembacaan dan pemahaman yang berbeda, Setiap orang mempunyai bacaan tersendiri terhadap apa yang dilihatnya maupun sesuatu yang dibacanya. Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda terhadap apa yang menjadi persoalan yang dihadapinya. Contoh misalnya orang yang buta dan tidak melihat sama sekali tapi masih bisa mengfunsikan panca indranya yang lain. Pada saat mengfunsikan tangannya dan meraba sebuah benda orang buta ini bisa membahasakan apa yang dirasakannya, Orang buta yang lain pun demikian bisa mengungkapkan apa yang dirabanya dengan bahasa yang berbeda. Sehingga apa yang dibahasakannya terhadap satu permasalahan bisa bermacam-macam bahasanya. Tergantung dari sudut mana orang buta tersebut membahasakan objeknya.

Orang buta saja yang tidak berfungsi penglihatannya bisa membahasakan suatu subjek yang sama dengan bahasa yang berbeda-beda. Inilah sebuah tantangan bagi seseorang yang memiliki panca indra yang sempurna ketika melihat sebuah masalah yang sama namun terkadang mempunyai pandangan yang berbeda. seharusnya menjadi perbandingan dalam mengolah wacana menjadi sebuah kesempurnaan karena dari berbagai aspek pembacaan yang berbeda. Pada hakikatnya sesuatu tersebut satu dan tidak berbeda sama sekali.

Sama halnya ketika membahasakan teks agama yang cenderung setiap agama mempunyai pandangan yang berbeda dalam memahami teks kitab sucinya. Ketika membahasakan agama ditinjau dari kaca mata tauhid maka semua agama baik agama samawi maupun agama ardi menyatu dalam sebuah pemahaman yang menginstruksikan taat dan patuh terhadap tuhannya. Tapi ketika agama ditinjau dari cara peribadatannya maka muncul berbagai dimensi aturan yang berbeda terkait dengan caranya peribadatannya.

Dalam agama Islam sendiri mempunyai banyak perbedaan. ketika Islam dilihat dari kaca mata fikhi atau aturan dalam beribadah maka timbul banyak perbedaan.  tapi ketika agama Islam dipahami dari sisi akidah maka tidak ada satupun yang bertentangan dalam bertauhid atau mengesakan tuhan. Inilah sebenarnya yang menjadi sumber permasalahan banyak orang tidak melihat dari sisi persamaanya sehingga mereka bertentangan. Padahal ketika memahami agama khususnya Islam dalam kaca mata tauhid maka tidak ada yang berani saling bantah dan mengatakan dirinya benar. Semua patuh dan tunduk dalam menjalankan anjaran agama.

Membaca sebuah teks termasuk teks agama ketika dalam sebuah diskusi mengalami perbedaan dalam memahami teks tersebut maka hal yang harus dilakukan supaya bersatu dalam sebuah perbedaan adalah saling menghargai satu sama lain karena mempunyai pemahaman yang berbeda namun menyempurnakan wacana yang ada. Hal yang lain ketika berbeda dalam suatu bacaan apalagi kalau itu teks agama maka yang terpenting yang harus dilakukan adalah kembali ke sisi tauhidnya jangan perpanjang masalah disisi fikhinya karena pasti menemukan jalan buntu dalam mempersatukan pendapat. Tapi ketika masalah itu dikembalikan pada asalnya maka yang terjadi ketenangan dan tidak ada yang berani karena yang dihadapinya adalah pemilik kebenaran yaitu pencipta alam semesta.  

 

 

Komentar