Suatu hal yang harus disadari bahwa perbuatan yang positif hasilnya positif dan perbuatan yang negatif hasilnya negatif. Bisa saja perbuatan yang positif hasilnya negatif ketika manusianya tidak sadar dengan dirinya sehingga timbul kesombongan sehingga menghasilkan sesuatu yang negatif.
Apa saja yang dikerjakan atau yang menjadi cita-cita untuk diraih itu pasti mempunyai tantangan yang sangat luar biasa dahsyatnya. Godaan dari berbagai sudut, halangan, tantangan yang dihadapi untuk mencapai cita-cita tersebut, ada-ada saja yang selalu menggoda, selalu mau jadi pahlawan padahal untuk menghancurkan cita-cita tersebut. tapi yang menjadi luar biasa adalah adanya seseorang yang menjadi penyemangat untuk menggapai cita-cita tersebut. Selalu memberikan aroma positif yang menyenangkan yang tidak semu sifatnya tidak patah arang dalam memberikan nasehatnya demi tercapainya cita-cita yang diinginkan.
Ada sebuah kata yang sangat masyhur yaitu “surga dunia” artinya kesenangan yang ada di dunia. sebenarnya orang tidak dapat masuk surga di akhirat ketika mereka tidak mendapatkan surga yang ada di dunia. untuk mendapatkan surga di hari kemudian terlebih dahulu harus meraih surga yang ada di dunia.
Melakukan sesuatu yang menyenangkan, membuat hati riang dan gembira serta selalu berbuat kebaikan untuk menggapai ketenangan. Keluarga sakina, mawaddah dan warahmah dengan di isi dengan bidadari dan malaikat kecil dengan didikan agama itulah surga yang sesungguhnya. Tapi ketika sebaliknya yang terjadi segala sesuatunya membuat hidup kacau balau, tidak teratur, berantakan dan selalu susah, galau disebabkan karena ulah kita sendiri ataupun keluarga dekat maka itulah neraka jahannam yang sebenarnya.ketika seseorang berhasil meraih kebahagiaan di dunia otomatis itulah surga lebih-lebih di akhirat nanti. Ukurannya adalah selalu melakukan hal-hal yang baik bagi diri sendiri maupun terhadap orang lain. Itulah yang akan menghasilkan ketenangan yang dapaknya membuat pikiran, hati begitu juga berdampak pada akhlakul karimah.
Harus disadari bahwa apa yang dilakukan itu bukan saja sifatnya ritual belaka, tapi aktualisasi yang dilakukan yang menjadi ukuran dalam menggapai surga tersebut. Jangan menjadi pincang antara ritual dan aktual, karena akan mengakibatkan kendala yang cukup serius disebabkan hal tersebut sangat bertentangan dengan yang sebenarnya.
Banyak orang yang salah paham dengan statemen ibadanya karena hanya menajalangkan ibada ritual semata tanpa aplikasi dari ibadahnya sehinga tidak punya pahala apa-apa. karena antara ibadah dan perbuatannya tidak sejalan, Bahkan banyak orang yang menjadikan fikhi sebagai kitab suci sehingga menimtimbulkan berbagai macam perpedaan. Wajar saja hal itu terjadi tapi harus diingat bahwa fiqhi bukan kitab suci tapi yang menjadi kitab suci adalah Alquran al-Karim.
Selama berpegang teguh pada kitab suci Alquran maupun hadis dengan menjadikan teksnya sebagai nilai-nilai yang harus diaplikasikan maka tidak ada pertentangan, kecuali kalau berdasar pada akal tanpa melihat kondisi sosial yang ada. Jadi, antara teks dan konteks harus sejalan.
Banyak yang bertentangan yang sebenarnya bukan masalah inti dalam agama. Pembasannya hanya persoalan rukun Islam tapi tidak ada yang membahas yang terkait dengan rukun agama sehingga banyak yang bertentangan di persoalan furu’ yang sebenarnya tidak merusak nilai-nilai ibadah. Justru persoalan akidah yang dianggap enteng yang sebenarnya merusak nilai agama. Rajin ibadah tapi tetap saja melakukan sesuatu yang negatif artinya ibadahnya sah tapi tidak punya nilai sama sekali.
Surga gambarannya adalah nilai positif yang menjadi dasarnya. Nilai, moral dan akidah bukan sekedar aturan tapi menjadi aplikasi nyata, aturan bukan untuk dipajan tapi untuk ditaati dijalangkan dengan penuh kesadaran. Nilai teks yang menjadi identitas dalam bertindak, aturannya bukan tekstual tapi memahami nilai teks yang ada. Tidak mengkritik teks yang sudah paten kebenarannya tapi membaca, mengaplikasikan nilai-nilai yang tertuan di dalamnya.
Masalah yang sebenarnya adalah satu bahasa melahirkan banyak makna yang sebenarnya benar adanya karena melihat dari kaca mata yang berbeda. Satu bahasa beragam makna yang timbul karena banyaknya kepala yang mempunyai pembacaan yang berbeda dalam menilai teks yang ada.
Seperti kata surga ini secara tekstual yang terdapat dalam teks agama yang kebanyakan orang pahami adanya di hari kemudian nanti. tapi secara kontekstual surga yang sesungguhnya ada di dunia ini.
Mantap pak...stp org menginginkan surga di dunia dan berhrp surga di akhirat juga
BalasHapusSemoga kita dapat meraih surga dunia dan akhirat. Aamiin.
BalasHapus