Teringat dengan kata-kata orang tua
yang mengatakan dengan bahasa bugis "Aja
Mukobburuka Narekko Mateka Naikiya Kobburuka Narekko Tuoka"(jangan kubur aku ketika aku mati tapi kubur aku ketika aku hidup).
Kata-katanya sangat filosofis perlu pembacaan secara mendalam untuk memahami
makna dari kata-katanya. Kata-kata ini bisa diterjemahkan dengan bahasa
filsafat dikolaborasi dengan bahasa tasawuf supaya jelas apa sebenarnya makna
yang bisa dipahami dari kalimat ini.
Orang tua dulu bahasanya sangat filosofis
dengan makna bahasa yang sangat hakikat, bahasa kasar diubah menjadi bahasa
yang lembut dan kelembutan menjadi ciri khasnya dalam bertutur. Inilah banyak
orang milenial lupakan dengan perkembangan zaman yang begitu canggihnya sehingga
melupakan hakikat dari bahasa tanpa disaring kemudian diungkapkan dan diucapkannya. Banyak istilah yang lahir pada zaman ini
seperti kata-kata yang sampai saat ini saya tidak paham artinya. Bahasa-bahasa
yang sering didengarkan sekarang sebagai bahasa tambahan anak muda-mudi
seperti "ongol" sebenarnya
kata-kata ini berasal dari bahasa yang yang tidak jelas dari mana sumbernya. Sangat
mengherangkan kata-kata yang tidak jelas justru menjadi istilah yang sangat
bumin di mansyarakat terutaman di kalangan mahasiswa.
Anak sekarang sedikit-sedikit bahasanya ongol.
Yang saya ketahui kalu ongol-ongol itu makanan tradisional yang khas orang
bugis yang terbuat dari sagu yang dibundarkan kemudia dicampur dengan gula merah
atau cendol sagu. Mirip rasanya dengan es dawet yang dicampur dengan gula
merah.
Bahasa ini sebenarnya adalah bahasa yang
tidak punya nilai yang justru bisa menjadi bahasa ejekan atau bahasa hinaan. Banyak sekali bahasa-bahasa yang mungkin belum ada dalam
kamus bahasa Indonesia yang sangat bumin sampai saat ini.
Bahasa yang sebenarnya tidak punya nilai dan
manfaat seyogyanya dijauhkan dalam kehidupan bersosial terutama terhadap generasi
penerus atau anak-anak. karena merekala yang menjadi imbasnya. Semua bahasa kasar harus diganti dengan
bahasa lembut supaya mempunyai nilai budaya lebih-lebih nilai terhadap
agama. Bahasa yang tidak jelas tinggalkan ganti dengan bahasa yang jelas supaya
mudah dipahami.
Ketika bahasa sudah diganti dengan bahasa
yang lembut, dengan sendirinya sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Karena bahasa yang
kasar dapat menimbulkan perilaku yang kasar pula. Bahasa yang kasar tidak
pantas keluar dari bibir makhluk yang sangat sempurna lebih-lebih dengan
perilaku yang kasar tidak pantas untuk makhluk yang bernama manusia yang
notabenanya sebagai pemimpin di muka bumi ini, karena menguasai berbagai hal yang
tidak di ketahuia oleh makhluk yang lain.
Jangan
kubur aku ketika mati artinya: manusia jangan pernah melakukan perilaku yang negatif karena
perilaku yang negatif itu adalah perilaku yang mati tidak berharga dan tidak
punya nilai. Jadi segala sesuatunya yang terkait dengan perbuatan manusia harus
diganti menjadi sesuatu yang positif mulai dari pikiran, pemahaman, kata-kata
serta tingkah lakunya semuanya mesti
mencerminkan sesuatu yang sesuai ataran yang telah ditentukan agama
maupun aturan dunia seperti aturan. Seseorang
bisa dilihat dalam kesehariannya, bahasa dan tindakannya sebenarnya mencermingkan
pikiran dan pemahamannya, Prilaku atau akhlak yang mulia keluar dari mulut
orang yang mempunyai pikiran yang jernih dan pemahaman yang mumpuni.
Kubur
aku ketika hidup artinya: manusia harus bertaubat dan menyesali semua
perbuatannya. Harus sadar bahwa Dia adalah hamba Allah dan ummat Rasulullah
saw. Sehingga dengan sendirinya kalimat itu terpatri dalam dirinya. sehingga orang tersebut selalu sadar dalam bertutur dan bertindak. Inilah yang dimaksud
dengan manusia yang hidup karena sadar dengan dirinya kalau dia masih hidup,
karena selalu melakukan hal-hal yang positif dalam setiap langkahnya.
Sekian
banyak manusia yang mati berjalan dimuka bumi ini karena tidak sadar kalau dirinya
adalah manusia, perbuatannya melampauhi batas tidak sadar kalau hidup hanya
sementara. Inilah yang dimaksud dengan kata-kata orang tua dan ini sejalan
dengan Alquran/3:102 yang terjemahnya: Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan
beragama Islam.
Dalam ayat ini menganjurkan orang yang hidup agar tidak
mati kalau tidak selamat. Untuk selamat sederhana bahasanya yaitu takut dengan sebenar-benarnya
takut dalam artian dalam menjalankan aturan agama. Bisa dipahami
bahwa manusia tidak mati, hanya berpindah
alam dari alam dunia ke alam kubur. Yang hidup adalah sesuatu
yang bernilai positif dan yang mati
adalah yang bernilai negatif.
Yang bisa
memberikan penilaian terhadap pribadinya adalah dirinya sendiri. Terkecuali
ketika orang tersebut bertutur sapa dengan sesamanya itupun tidak bisa dinilai
karana jangan sampai itu adalah perannya hidup di dunia. Tapi mari berusaha
menjadi yang terbaik dengan penuh keyainan kita dilahirkan untuk menjadi orang
baik dan melakoni sesuatu yang positif.
Mantap Pak...Penuh Makna
BalasHapusMasya Allah dalam sekali maknanya
BalasHapus