Jangan
bosan dengan corona karena corona banyak mengajarkan saling menharagai sesama,
Saling menjaga diri dari hal-hal-yang tidak diinginkan dengan selalu
membersihkan diri baik sisi lahir maupun
sisi batin. Menjaga jasmani dengan menaati standar protokol kesehatan yang sudah di tetapkan oleh pemerintah, serta
menjaga batin dengan selalu tingkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. Supaya
dihindarkan dari bahaya Virus corona serta berbagai bala’ yang lain.
New
normal yang diterapkan oleh pemerintah dengan tetap menaati protokol kesehatan
yang telah ditentukan. Sehingga semua aktivitas yang sebelumnya dilarang
dikerjakan sekarang sudah diperbolehkan dengan syarat mengikuti aturan, tetap hati-hati
dan waspada terhadap kemungkinan yang akan terjadi.
Ini
sebenarnya mengambarkan kepada masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama
Islam dengan saling menjaga, menghargai, menghormati. Mengingatkan bahwa manusia
penuh dengan kotoran dan tidak ada keistemewaan
yang terdapat dalam dirinya, kecuali dianugrahi dengan kulit yang mulus, paras yang cantik dan tanpan sehingga punya harga diri dan punya wibawa. Coba bayangkan
betapa menjijikannya seandainya tuhan tidak memberikan kulit sehingga semua
kelihatan dan transparan dalam tubuh, maka yang
terjadi adalah manusia tidak mau saling
menatap disebabkan karena dirinya kotor dan hina dengan penuh darah dan kotoran.
Apa yang terdapat dalam perut dengan
berbagai makanan enak yang sebentar saja dirasakan di mulut, kemudian lewat
ditenggorokan terus ke usus tinggal diperut beberapa saat, dengan berbagai jenis
makanan sehingga membusuk dan keluar lewat anus. Tidak ada yang berkomentar
pada saat buang hajat dengan mengatakan “yang mana makanan yang enak-enak yang
saya makan kemarin” semuanya pada tutup hidung dan tidak mau menghirup
aroma makanannya masing-masing. Padahal pada saat mau makan memilah dan memilih
jenis makanan yang enak dan lezat untuk dinikmatinya. Setelah itu tidak mau tahu lagi apa yang telah menjadi pilihannya yang
ternyata hanya menjijikkan.
Inila manusia pada umumnya dibungkus dengan
sesuatu yang sangat mewah seyogyanya dijaga dengan akhlakul karimah
(akhlak, moral, nilai dan segala sesuatu yang positif) dengan mensyukuri bahwa
ini adalah anugrah yang sangat mulia
dari pencipta alam semesta.
Manusia tidak ada yang
diciptakan dari emas dan permata apalagi batu bacan dan berbagai barang mahal
lainnya. Dalam Alquran dijelaskan asal kejadian manusia ada empat secara
mendasar yaitu ماء air, طرابtanah, علقdarah, منيي mani. Mencampur
beberapa unsur menjadi satu yaitu manusia yang sempurna, hanya pencipta alam
semesta yang bisa mengubah sesuatu yang
hina menjadi muliah. Coba kalau manusia yang campur aduk menjadi satu kesatuan
walaupun dengan alat yang sangat canggih sekalipun pasti tidak akan menjadi
manusia.
Dalam lontara bugis juga menjelaskan bahwa
manusia berasal dari empat unsur yang tidak terpisahkan yaitu tanah, api, angin
air. Ini bisa dipahami dengan menjelaskan arti dari masing-masing unsur
tersebut. Satu kesatuan yaitu: Tanah - tanai alemu (Tanya diri ta), Api
- Apikkiriki (Berfikir ki), Angin - Aringgeraki ( Ingat ki), Wae
- Ewai Alemu (Tolong diri ta)
Tanah tanai alemu (Tanya diri ta) Dengan
bahasa sederhana manusia dianjurkan untuk selalu bertanya kepada dirinya. Mengoreksi,
mengintropeksi yang Tentunya harus punya keyakinan yang kuat dengan segala bertimbangan
sehingga sesuatu yang dilakukannya sudah sesuai standar.
Api - Apikkiriki (Berfikir ki).
Manusia dianjurkan untuk selalu berfikir. menciptakan inovasi baru dan
mutaakhir disetiap langkahnya, berkarya dan terus berkarya baik untuk pribadinya
maupun untuk orang lain. Ciri manusia
adalah masih bisa berfikir dalam bahasa filsafat cegito ergo sum (aku
berfikir maka aku ada) ini diungkapkan oleh salah satu tokoh filsuf yang
bernama Descartes yang berasal dari perancis.
Angin - Aringgerakko ( Ingat ki),
manusia harus selalu mengfungsikan ingatannya supaya dia dikatakan sebagai
manusia. Teringat dengan kata-kata bugis kuno yang kurang lebih bahasanya
mengtakan “Tau parengerangge” artinya ingatan yang harus dipelihara
karna itu salah Satu ciri manusia yang membedakan dengan makhluk yang lain.
Wae - Ewai Alemu (Tolong diri ta), dalam bahasa Tauhid
menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan baik positif maupun negatif
akan dituai sendiri baik di kehidupan nyata maupun maya baik di dunia maupun di
hari kemudian nanti.
Dari
ke empat unsur tersebut saling berkaitan satu sama lain, salin membutuhkan
tidak bisa berdiri sendiri tanpa menjadi penunjang bagi yang lain begitu juga
sebaliknya.
Hanya manusia yang tidak menyadari dirinya
sebagai manusia yang bisa melakukan sesuatu yang melencen dari seharusnya dari
sisi kemanusiaannya. Selama menyadari hal tersebut maka yang terjadi adalah
saling menghormati, menghargai, menyayangi. Dalam bahasa lontara yang sangat
mashur diungkapkan “ rebba sipatokkong, mali siparappe, malilu sipakainge” bisa dipahami dalam bahasa agama saling
tolong menlong dalam hal kebaikan.
Mari tetap memperhatikan protocol kesehatan
yang telah ditentukan oleh pemerintah sambil selalu mawas diri dan memohon
pertolongan kepada penguasa jagad raya.
Wassalamu
alaimum warahmatullahi wabarakatuh
Masya Allah....hal ini msk kategori sulapa eppa
BalasHapusManusia memang istimewa...
BalasHapus